Palangkaraya, Beritainfobreakingnews.com – Sahabat Nabi Umar bin Khattab ketika menjabat sebagai Khalifah, selalu melakukan patroli di malam hari untuk memastikan keadaan rakyatnya. Hingga suatu malam Beliau menemukan sebuah keluarga miskin di mana seorang ibu sedang memasak batu di dalam panci untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan.
Melihat kondisi tersebut, Umar bin Khattab merasa sangat sedih dan menangis. Beliau merasa bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyatnya. Seketika itu juga, beliau kembali ke gudang baitul mal (kas negara), memanggul sendiri sekantong gandum dan bahan makanan lainnya di punggungnya, dan membawanya ke keluarga tersebut. Beliau bahkan membantu memasakkan makanan untuk mereka.
Indonesia, Negara yang kaya raya bukan hanya dari keragaman budaya bahasa adat istiadatnya, tapi juga isi perut buminya. Sudah merdeka dari peperangan, namun kekayaaan itu tidak dirasakan adil merata oleh jelata yang jauh dari pandangan mata pejabat pemerintah yang tidak amanah.
Sungguh Malang nasib Ibu Nurbaya (59) yang harus berjuang sendiri mencari nafkah untuk suaminya Miswan (60) yang dalam keadaan sakit keras dan anak nya Muamar (27) yang dalam keadaan kaki kirinya lumpuh, ibu Nurbaya yang hanya mengandalkan sepeda tua berjualan lontong sayur keliling pasar mandawai harga yang dijual pun sangat murah Rp 2 ribu rupiah perbiji dengan pendapatan bersih antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu perhari yang tinggal dirumah kontrakan mandawai ujung RT 07/ RW 07 kelurahan Palangka,Kecamatan Jekan Raya, kota Palangka Raya.
“Ini saja usaha saya sehari-hari, menjual lontong Rp 2 ribu perbiji pendapatan kadang ada lebih kadang tidak. Alhamdulillah warga disini baik terhadap kami, kadang ada yang sukarela memberi Rp 25 ribu, ada juga yang memberi Rp 50 ribu, apa lagi ketua RT nya pun orang yang baik, membantu anak dan suami saya berobat, alhmdulillah hal itulah yang selalu saya syukuri, “ungkap Ibu Nurbaya dengan logat bahasa Banjar.
Dirinya pun menjelaskan anaknya Muammar pernah bekerja di loundry hampir satu tahun setelah itu berhenti kerena loundry tempatnya bekerja pindah ke Banjarmasin.
Seraya duduk tertunduk, Nurbaya mengenang peristiwa yang menimpa anak lelaki nya yang semula bekerja membantu perekonomian keluarga.
“Penyakit lumpuh yang diderita Muammar pada kaki sebelah kirinya bermula saat setelah pulang dari sholat Jum’at terasa sakit dan sulit berjalan, kerena dianggap biasa aja maka dibiarkan sehingga penyakit tersebut semakin bertambah parah sampai akhirnya kaki kirinya tidak mampu digerakkan lagi, berjalan pun harus dibantu mengunakan tongkat,”terang nya.
Ketua RT 07 yang baru saja menjabat pun membenarkan kisah hidup keluarga Nurbaya, dan ia menambahkan asal mula penyakit yang di derita Miswan suami Nurbaya.
“Awal mula penyakit datang ketika suaminya memancing didaerah sini waktu itu suaminya menarik pencing tersebut dan kerena terlalu kencang tarikan akhirnya kailnya nyangkut dikabel listrik sehingga arus listrik langsung menyetrum suaminya itu setelah dari itulah penyakit suaminya sekitar 8 bulan tidak pernah sembuh sampai saat ini, ” ujarnya.
“Pernah kami bersama warga ingin membawa ke kerumah sakit tapi ditolak oleh istrinya dengan alasan tidak ada yang menunggu di rumah sakit, ” lanjutnya.
Ibu Nurbaya hanya berharap kepada pemerintah kota mau memberikan bantuan uluran tangan kasih untuk segera membawa anak dan suaminya berobat dirumah sakit dan memberikan sumbangsih untuk biaya kehidupan sehari hari selama anak dan suaminya berobat dirumah sakit.