Kisah Harumnya Keringat, Busuknya Gengsi

Oplus_131072

Palangkaraya, Infobreakingnews.com – Setiap pukul 12 malam, ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi, pak Sur sudah bergulat dengan dinginnya angin malam. Di atas motor bebek tuanya yang sudah dimodifikasi dengan keranjang kayu ia membelah jalanan menuju pasar subuh. Bau bau ikan dan sayuran segar adalah parfum hariannya. Pak Sur hanyalah seorang pedagang sayur keliling.

Namun, hatinya tertambat pada Lis, seorang janda muda beranak tiga yang tinggal di kota. Lis adalah wanita yang lembut dan rajin, namun nasib pernikahannya yang dulu kandas membuatnya menyandang status “janda” sebuah label yang di lingkungan mereka sering kali dipandang sebelah mata.

Cibiran Keluarga Sendiri

Masalah bukan datang dari Lis, melainkan dari keluarganya sendiri. Ibu dan adik perempuan Lis adalah orang-orang yang sangat memuja materi dan gengsi.

Awal menikah setiap harinya rumah Lis dan pak Sur terasa panas bukan karena cuaca, tapi kerena selisih paham yang dipicu orang ketiga yang berusaha menghancurkan rumah tangga mereka.

Kembang rumah tangga mulai digoyang dengan sindiran.

“Kamu itu masih muda, masih cantik . Seharusnya cari suami yang mapan buat angkat derajat keluarga. “Cari sepatu dapatnya sendal jepit, Kok malah sama tukang sayur? Bau ikan begitu. Mau dikasih makan apa anakmu? ikan asin tiap hari?” ujar adiknya.

“Pak Sur kami ini keluarga terpandang di dikota ini. Apa kamu tidak malu? Lis itu cantik, banyak laki- laki yang berdompet tebal yang mau sama dia. Kamu cuma punya motor butut.” Ibu Lis menimpali.

Pak Sur hanya menunduk. Tangannya yang kasar dan kapalan meremas tangannya. Semangat Pak Sur membara, ia ingin membuktikan bahwa seorang pedagang sayur pasti lebih baik.

“Bu, saya memang bukan orang kaya. Tapi saya berjanji, dengan titik-titik keringat saya yang halal saya tidak akan membiarkan Lis dan anaknya kelaparan. “Ujar pak Sur membungkam pedasnya kata-kata mertua dan adik iparnya.

Roda Kehidupan Terus Berputar

Dengan semangat yang tangguh dan yakin pada yang kuasa rezeki orang jujur tidak pernah tertukar.

Tiga tahun berlalu. Pelanggan Paksur membludak. Motor bututnya sudah pensiun. Kini, ia memiliki sebuah mobil pick-up untuk mengangkut barang dagangannya . Ia bukan lagi pedagang eceran, tapi penyuplai untuk warung makan di setiap Desa wilayah pertambangan.

Membuktikan sebuah pekerjaan, bukan harus menjadi PNS atau pejabat baru bisa kaya, tapi membuktikan seorang pedagang sayur pasti bisa!

Allah tidak pernah tidur, Allah melihat kesabaran dan ikhtiar hambaNya, pernikahan pak Sur diawali dengan niat tulus, dijalani dengan perjuangan berat dan  doa yang tak pernah putus, pak Sur tak menyia-nyiakan nikmat yang dititipkan, ujian rumah tangga ia jadikan kesempatan beribadah, ia memilih bersyukur daripada mengeluh hingga Allah limpahkan rezekinya yang tak disangka-sangka, dan kini pak Sur memiliki semua kemewahan dunia.

Pesan Moral

Jangan Menilai Buku dari sampulnya, pekerjaan kasar seseorang bukan berarti masa depan suram. Kehormatan seseorang terletak pada kejujuran dan tanggung jawabnya, bukan seragam yang dipakainya.

Dukungan pasangan adalah kunci kehidupan, tanpa gengsi, suami istri harus berkerja sama meskipun dari titik nol. Itulah yang membuat seseorang sukses.

Balas Dendam Terbaik adalah Kesuksesan. Seseorang tidak membalas hinaan dengan amarah, melainkan dengan bukti nyata dan tetap berbuat baik saat kita berada di atas.

logo-pers FORWAMA-resized-225x224

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *