Beritainfobreakingnews.com – Kota Metro, Lampung,- Diam memang emas, tapi kalau pejabat publik memilih bungkam saat dikonfirmasi wartawan, emas itu bisa berubah jadi batu sandungan. Itulah yang terjadi ketika salah satu wartawan mencoba menghubungi Pj. Sekretaris Daerah Kota Metro, Dra. Bayana, M.Si., CGCAE. Pesan WhatsApp sudah dikirim, salam Islami pun sudah diucapkan, tapi jawaban nihil.
Padahal, menjawab salam hukumnya wajib. Kalau pejabat tak menjawab, malaikat yang turun tangan. Tapi publik jelas tak bisa menunggu malaikat untuk menjelaskan soal anggaran miliaran rupiah di Sekretariat Kota Metro.
WhatsApp yang Tak Terbalas
Konfirmasi dilakukan terkait mekanisme pengelolaan anggaran dan surat resmi yang sudah dilayangkan sebelumnya. Namun, pesan yang dikirim ke nomor +62 8XX-7206-XXX tetap tak berbalas. Wartawan mencoba lewat ajudan, bahkan datang ke kantor, hasilnya sama: pintu tertutup rapat.
“Menemui pejabat provinsi saja gampang, kok di Metro malah susah? Komunikasi itu kunci, bukan labirin,” sindir Muktaridi, Ketua PWRI Metro sekaligus Kepala Biro dari meida Mitrapol Kota Metro, Jumat (28/11/2025).
Kritik Pedas dari PWRI
Ketua Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kota Metro, Provinsi Lampung, Muktaridi menilai sikap bungkam pejabat publik justru menimbulkan dampak negatif.
“Harusnya seorang Pj Sekda terbuka kepada siapapun. Kalau sudah salam saja tidak dijawab, publik bisa curiga ada yang disembunyikan. Transparansi itu bukan pilihan, tapi kewajiban,” tegasnya.
Ia bahkan menyarankan, kalau memang tak mau dikonfirmasi wartawan atau masyarakat, lebih baik mundur saja. “Kota Metro sedang berbenah. Butuh pejabat yang mau mendengar, bukan yang memilih diam,” tambahnya.
Anggaran yang Jadi Sorotan
Diamnya pejabat makin bikin publik bertanya-tanya, apalagi ada sejumlah pos anggaran 2025 yang nilainya miliaran rupiah dan patut diklarifikasi:
- Belanja makan dan minum
- Belanja ATK
- Belanja natura Walikota, Wakil Walikota, dan Sekda
- Belanja lembur
- Belanja perjalanan dinas
Tanpa penjelasan resmi, ruang publik bisa dipenuhi rumor dan spekulasi. Dan kita tahu, rumor itu seperti api kecil: kalau dibiarkan, bisa membakar kepercayaan publik.
Muktaridi menegaskan dukungan penuh terhadap program Walikota Metro, tapi mengingatkan bahwa pejabat harus mau mendengar aspirasi masyarakat dan wartawan. “Prinsipnya sederhana: kalau bersih, kenapa risih?” katanya.
Kini bola ada di tangan Pj Sekda. Publik menunggu klarifikasi, bukan keheningan. Karena dalam dunia birokrasi, diam bukan lagi emas, diam bisa jadi bumerang.












