Beritainfobreakingnews.com – Jawa Barat,- Tasikmalaya lagi-lagi jadi panggung kebijakan nasional yang bikin alis warga naik lebih cepat daripada harga cabai. Ribuan calon jemaah haji yang sudah siap mental, fisik, dan dompet, mendadak harus menelan pil pahit: kuota keberangkatan mereka dipangkas habis-habisan.
Dari semula 1.399 kursi, kini tinggal 309. Artinya, 1.090 jemaah yang sudah latihan manasik, cek kesehatan, bahkan ada yang sudah urus visa, harus rela menunda mimpi suci mereka.
“Ikhlas Aja, Bro”
Plt Kepala Kemenag Tasikmalaya, Asep Bahria, tampil sebagai jubir kebijakan ini. Dengan wajah yang mungkin lebih tegang daripada peserta ujian CPNS, ia berkata:
“Dengan model baru, kuota kita hanya 309 orang. Artinya, 1.090 jemaah tidak bisa berangkat tahun depan.”
Asep menambahkan, pemerintah pasti punya pertimbangan terbaik. Tapi ia juga tak menutup mata: masa tunggu haji yang sudah 17 tahun bisa makin panjang. Jadi, kalau daftar sekarang, bisa jadi anak cucu yang berangkat duluan.
Antusiasme Tak Pernah Padam
Meski kuota menyusut, semangat warga Tasikmalaya tetap meledak. Kantor Kemenag mencatat 5–10 orang mendaftar setiap hari. Salah satunya Iskandar dari Sariwangi, yang mendaftar bersama istrinya.
“Saya percaya haji itu panggilan Allah. Kalau belum waktunya, pasti ada jalan lain,” ujarnya, dengan ketenangan yang bikin kita merasa malu kalau ngeluh soal antrean sembako.
Kritik: “Rugi Mental dan Materi”
Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan para jemaah tak tinggal diam. Mereka menilai kebijakan ini bikin rugi dua kali: psikologis dan finansial. Bayangkan, biaya cek kesehatan saja Rp1,4 juta per orang. Belum lagi manasik, dokumen, dan persiapan lain yang sudah keluar.
Ketua KBIH Al-Ihsan, Dede Farid Hilman, berharap sistem baru ditunda sampai 2027.
“Jemaah sudah siap berangkat. Ada yang sudah urus visa dan manasik. Rugi secara materi dan mental,” katanya, dengan nada yang lebih getir daripada lagu galau.
DPR dan Pemda Diminta Turun Tangan
Sejumlah pihak mendesak pemerintah daerah dan DPR RI untuk ikut campur. Harapannya, kuota haji 2026 tetap mengakomodasi jemaah yang sudah memenuhi syarat. Kalau tidak, bisa jadi Tasikmalaya punya “waiting list” lebih panjang daripada daftar tunggu rumah subsidi.
Kesimpulan: Kebijakan daftar tunggu nasional ini ibarat konser besar: tiket sudah di tangan, latihan sudah jalan, tapi tiba-tiba panitia bilang, “Maaf, kursi dipangkas, silakan antre lagi.” Bedanya, ini bukan konser Coldplay, tapi perjalanan spiritual ke Tanah Suci.












